Sabtu, 13 April 2013

MELIPATGANDAKAN INFAQ DIJALAN ALLAH



Oleh: Dr.H Shobahussurur M.A.

Perumpamaan orang yang membelanjakan harta benda mereka dijalan Allah, adalah laksana satu biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Dan Allah akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah maha luas lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah/2:261)


Setiap orang mencintai harta benda. Cinta harta adalah naluri setiap orang. Setiap orang berusaha mencari harta benda, memiliki, menguasai, kemudian mempergunakannya. Hanya saja diantara manusia ada yang terlalu berlebihan dalam mencintai hartanya, sehingga berat sekali mendermakan sebagian hartanya untuk mensejahterakan masyarakat. Mereka dihinggapi penyakit hati akut, yaitu; pelit, bakhil, dan kikir. Sebagaimana disinyalir dalam Al-Quran, bahwa manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah dan kikir, ketika ditimpa kesusahania berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan berupa harta benda ia amat kikir (Q.S al-Ma’arij/70;20).
Buya Hamka Menegaskan bahwa cinta harta berlebihan hingga menimbulkan sifat bakhil, kikir, dan pelit, pertanda syirik melekat dihati. Harta benda dipersekutukan dengan Allah. Cinta harta mengalahkan kecintaan kepada Allah. Seseorang dalam pandangan Islam berhak memilih dan mencintai hartanya. Namun kecintaannya itu tidak boleh berakibat pada kerusakan diri sendiri dan kerusakan orang lain. Dalam hartanya itu sesungguhnya terdapat bagian orang lain (mustahiq) dan oleh karenanya harus dikeluarkan untuknya.
Maka dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang mendidik manusia agar bersifat murah hati, murah tangan, mudah memberi, dan berderma. Berderma untuk berbagai kepentingan, terutama demi menegakan jalan Allah, menunjukan tingkat keimana kepada Allah. Mendermakan harta itu diistilahkan dengan infaq (membelanjakan), baik dalam bentuk zakat (infaq wajib), maupun shadaqah, wakaf, hadiah, hibah dan lain-lain (infaq sunnah). Mengeluarkan harta merupakan pengorbanan demi kebaikan masyarakat. Jalan Allah mengandung pengertian yang sangat luas yang semuanya itu memerlukan pengorbanan harta benda. Termasuk didalamnya berkorban untuk kepentingan dakwah Islam, mengangkat kemiskinan, pendidikan agama, membangun atua memperbaiki masjid, musholla, madrasah, rumah yatim piatu, rumah sakit dan lain-lain.
Seruan berinfaq dalam Al-Quran, demikian dijelaskan oleh budaya Hamka, ada yang bersifat tarhib, bentuk ancaman kepada orang bakhil yang enggan mengeluarkan hartanya. Mereka diancam siksa yang pedih bersama hartanya dineraka. Ada pula yang bersifat targhib, rayuan dan janji gembira bagi siapa yang mengeluarkan hartanya akan mendapat pahala yang berlipat ganda.

PAHALA TUJUH RATUS KALI LIPAT
Buya Hamka memberkan contoh menari k ternatang satu kebajikan yang akan mendapat balasan dari Allah sebanyak tujuh ratuh kali lipat, sebagai mana dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah/2:261. Umpamanya ada seorang harta dermawan yang mendirikan sebuah sekolah dasar disebuah desa miskin dan terpencil, sehingga anak-anak dikampung itu tidak perlu lagi sekolah dikampung lain. Kemudian sekolah dasar itu diisi ratusan murid. Tahun demi tahun sekolah itu meluluskan banyak pelajar yang kemudian melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi ditempat lain. Hingga akhirnya kaum terpelajar itu mendirikan sekolah-sekolah lagi dan mengabdi dimasyarakat. Orang seperti itu pasti mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Walaupun dia hanya mendirikan satu buah sekolah , namun berkambang menjadi sekolah-sekolah dan meluluskan ratusan bahkan ribuan pelajar. Kalaulah Allah menyebutnya hasil itu tujuh ratus, tidak perlu dimaksudkan persis tujuh ratus, malah bisa beribu-ribu.
Tentu saja yang mampu memahami penjelasan di atas sehingga dengan sadar mengorbankan harta, hanyalah cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada harta benda. Sedangkan orang yang akan dilipatgandakan sampai tujuh ratus bahkan lebih. Orang dermawan yakin bahwa Allah maha luas sumber rizki-Nya. Bila dia mengorbankan sebagian harta untuk dijalan Allah, maka Allah pasti semata-mata mengharapkan ridha-Nya.
SOPAN SATUN BERINFAQ
Keikhlasan berinfaq dijalan Allah dibuktikan dengan tidak usah mengungkit-ungkit harta (mannan) yang sudah diberikan, dan tidak pula dengan menyakiti (adza), seperti dalam firman Allah: “Orang-orang yang membelanjakan harta benda mereka dijalan Allah kemudian tidak diikuti apa yang telah mereka belanjakan itu dengan mengungkit-ungkit dan tidak dengan menyakiti, untuk mereka disisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita” (Q.S Al-Baqarah/2:262)
Buya Hamka menjelaskan bahwa mengungkit-ungkit dan menyakiti dalam berinfaq tanda tidak ikhlas. Sebagai contoh, orang yang telah memberikan sumbangan mendirikan sekolah, namun karena sekolah itu belum jadi, pihak panitia datang lagi kepada orang itu untuk sumbangna berikutnya. Tiba-tiba diungkit pemberian yang telah lalu, dengan sikap sinis mempertanyakan kedatangannya untuk minta sumbangan lagi,  padahal dulu dia telah menyumbang. Contoh lain yang telah membantu seorang fakir miskin sehingga berhasil kaluar dari kemiskinan dan bahkan sukses dalah hidupnya. Yang memberi bantuan itu lantas menyebut-nyebut bantuannya dengan mengatakan: “kalau bukan karena bantuan saya dulu, tidaklah kamu sebahagia sekarang ini”.
Infaq yang akan diberikan juga akan sisa-sia bila dikeluarkan setekah terlebih dahulu menyakiti orang yang diberi. Bantuan diberikan setelah memaki-maki, atau marah-marah. Atau meremehkan dan menghinakan orang yang meminta, meskipun akhirnya memberi  ala kadarnya.
Buya memberi  nasehat kepada kita agar memiliki sopan santun dalam berinfaq. Keikhlasan adalah kunci utama. Hendaknya berinfaq dengan hati tulus, memandang orang yang meminta sumbangan dijalan Allah sebagai sarana dari Allah untuk membuka pintu hati dan bungkusan uang agar dikeluarkan kepada jalan yang baik. Bahkan andai kata kita tidak memiliki harta untuk disumbangkan  saja qaul ma’ruf (kata-kata yang baik) itu jauh lebih baik dari pada memberi  sumbangan yang diikuti dengan sikap yang menyakitkan (Q.S Al-Baqarah/2:263). Bila tidak ada harta yang disumbangkan, kata-kata yang lembut, pikiran yang jernih, atau tenaga yang tulus diberikan, merupakan sumbangan yang terpuji pula. Buya juga menyarankan hendaklah menutup rahasia orang yang meminta bantuan. Sebab ada orang yang malu membuka rahasia kesusahannya kepada orang lain. Kalau tidak karena terpaksa, pasti dia tidak akan meminta bantuan. Maka berikanlah bantuan orang yang seperti itu secara diam-diam, tutup rahasianya, jangan sampi diketahui orang lain.
Orang dermawan tidak pernah ditimpa rasa takut, tidak pula merasa sedih. Tidak pernah takut hartanya akan berkurang lantaran berinfaq dijalan Allah. Dalam keyakinannya, setiap harta yang dikeluarkan pasti justru akan dilipatgandakan oleh Allah. Dia tidak akan merasa sedih karena kekurangan atau kehilangan. Dia memberi oleh karena tidak merasa berhutang kepada orang. Hatinya lapang, pikiran terbuka.
Oleh karenanya, orang dermawan adalah berani. Berani mengorbankan harta bendanya untuk kepentingan perjuangan menegakan agama Allah. Dia yakin akan mendapat ganti lebih banyak, dan dia tidak akan melarat karena berinfaq. Orang dermawan selalu senang dan bergembira. Mukanya selalu jernih berseri-seri. Dan tidak takut miskin. Dia tidak sedih kalau kekurangan. Dia selalu bergembira, walau hartanya kadang datang dan kadang pergi, tetapi kekayaan iman kepada Allah, tidak akan pernah hilang dan pergi. Dia adalah orang yang bertaqwa yang salah satu tandanya  adalah mampu berinfaq fi al-sarra’ wa al-dharra’ (dalam keadaan senang dan kesah), senbagai mana yang terkandung dalam Q.S Al-Imran/3:
Oleh karena itu, marilah kita mempertanyakan kepada diri kita, seberapa banyak kita telah berinfaq dijalan Allah. Negeri kita yang terus menerus dirundung susah, berbagai bencana terjadi, musibah dimana-mana, angka kemiskinan dan kebodohan terus meningkat, membutuhkan uluran tangan kita semua. Kita harus yakin bahwa setiap keringat yang menetes karena menolong orang, setiap tenaga yang kita sumbangkan, setiap lempar uang yang kita serahkan kepada mustahiq, setiap karya yang kita berikan kepada yang membutuhkan, akan diganti oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda tanpa dirugikan sama sekali.
WALLAU A’LAM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar